Friday, June 22, 2012

Romantika Bocah


Lucu, polos, jujur, dan menggemaskan. Semua itu terpancar dari wajah mereka. Mereka bisa menjadi penurut. Tapi bisa juga menjadi pembangkang. Banyak yang berprestasi. Gemilang. Membanggakan. Tapi tidak sedikit yang menjadi cemoohan. Semua tergantung bagaimana kita mendidik dan membimbing mereka. Demikian pemahaman saya tentang anak-anak.

Pertemuan saya dengan dua orang bocah, yang wajahnya terpampang pada foto di samping, beberapa waktu lalu tak hentinya membuat saya tersenyum. Senyum karena tingkah pola mereka yang menggemaskan dan lucu. Akrab. Romantisme bocah
Mereka ikut berjualan dengan orang tua masing-masing di sebuah pasar tradisional di bilangan Jakarta Selatan. Sambil menunggu, asik bercengkrama. Bermain masak-masakan. Demikian saya menyebutnya waktu kecil dulu. Sisa-sisa sayuran dipotong-potong. Bergantian berperan sebagai penjual dan pembeli dengan beragam ekspresi yang bisa diungkapkan lewat wajah polos mereka. Mereka tidak peduli dengan beban hidup yang, mungkin, menghimpit orang tua mereka. Seolah tidak ingin persoalan orang tua merenggut keceriaan masa kanak-kanak mereka.

"Only where children gather is there any real chance of fun".                                                       -Mignon McLaughlin, journalist and author-
Sejatinya anak-anak menikmati masa kecil mereka, bermain, tanpa harus risau dengan segala persoalan orang tua. Bahkan mereka diharapkan aktif sejak dini. Tentu, aktif dalam artian positif. Sebuah penelitian menunjukkan anak-anak usia sekolah dasar yang aktif cenderung lebih sehat saat beranjak dewasa. Karena itu, disarankan anak-anak harus beraktifitas fisik selama 60 menit sehari. Itu waktu yang ideal menurut penelitan yang dilansir oleh situs BBC Indonesia . Bukan hanya aktifitas fisik, menurut saya, tapi perhatian orang tua juga punya peran penting untuk masa depan anak. Kasih sayang, sandang, pangan, dan papan yang memadai adalah bentuk perwujudan dari perhatian itu. Tidak bisa ditawar!!

Sayangnya, tidak semua anak Indonesia punya kesempatan untuk benar-benar menikmati momen itu, bermain & beraktifitas. Ceria, riang gembira, bersama kawan. Sedikitnya masih ada 4,5 juta anak terlantar yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Dengan berbagai alasan, mereka seolah terhempas dari lingkaran kenyamanan yang seharusnya diciptakan oleh orang tua atau setidaknya dewasa yang diembankan tanggung jawab untuk merawat mereka. Negara pun mengambil alih. Ironisnya, dana senilai 285 miliar rupiah yang dimiliki Kementerian Sosial hanya cukup untuk membiayai 175 ribu anak terlantar di seluruh Indonesia. Kemensos berdalih diperlukan kerja sama dengan pemerintah pusat, pemprov, pemda, dan komponen lain untuk mengatasi anak-anak terlantar ini. Siapa pun. Pastinya juga, banyak hal yang bisa dilakukan. Apa pun. Asal ada niat dan benar-benar bertindak.

     "Children are our most valuable resource".

                               -Herbert Hoover, 31st U.S. President-

Mungkin terdengar klise. Tapi bocah-bocah polos menggemaskan itu kelak menggantikan Bapak Presiden, Wakil Presiden, para menteri, Bapak dan Ibu hakim yang terhormat, yang saat ini tengah menikmati kekuasaannya. Mereka juga yang nanti akan mengisi sederet posisi penting lainnya termasuk menjadi wakil rakyat yang mumpuni dan berakhlak mulia guna membawa Indonesia sejajar dengan negara maju di dunia. Di genggaman tangan mereka impian negara Indonesia yang lebih baik di kemudian hari bisa terwujud. Di pundak mereka juga tanggung jawab keberlangsungan hidup negara ini di masa depan. Saya mungkin bukan ahli dalam mengatasi permasalahan ini. Maka apa yang tertuang dalam tulisan ini hanyalah sedikit kegelisahan demi melihat masih banyak bocah-bocah lucu nan polos berkeliaran di jalan sebagai pengemis, pengamen, terlunta tanpa pengawasan. Menjadikan mereka anak-anak yang liar.


Akhir kata izinkan saya kembali mengutip seorang tokoh dunia, sekedar mengingatkan agar romantika bocah-bocah lucu, lugu, dan menggemaskan itu tetap dapat membuat kita tersenyum.
"Hugs can do great amounts of good, especially for children."
 -Princess Diana, Princess of Wales-




No comments:

Post a Comment