Bus Transjakarta koridor Blok M - Kota sore beberapa hari lalu disesaki oleh penumpang. Kebanyakan penumpang hendak menuju kawasan Jakarta Pusat dan pusat-pusat perbelanjaan di tengah kota Jakarta. Sementara di sebelah jalur khusus bus Transjakarta macet tak terhindarkan. Mobil seolah sedang parkir di jalan raya Jakarta. Saat itu sedang akhir pekan, banyak warga keluar untuk sekedar have fun setelah lima hari berjibaku dengan pekerjaan di kantor. Tidak heran. Apalagi Juni ini banyak event yang mengundang warga untuk datang.
 |
| Macet di jalan protokol Sudirman |
Jakarta pun bersolek. Baliho aneka warna dan ukuran terpampang di jalan-jalan kota. Isinya beragam. Mulai dari ucapan selamat ulang tahun untuk Kota Jakarta hingga pengumuman diskon besar-besaran di berbagai mall.
Jakarta Great Sale. Begitu judulnya. Potongan harga sampai 70 persen, katanya.
Jakarta juga berhajat. Perhelatan akbar tahunan, sebulan penuh di pertengahan tahun. Pekan Raya Jakarta (PRJ) demikian namanya. Istilah menterengnya
Jakarta Fair.
PT Jakarta International expo didapuk untuk mengatur perhelatan rutin tersebut.
Setidaknya 2650 perusahaan berpartisipasi dalam ajang tersebut. Sejumlah artis papan atas juga didatangkan untuk memeriahkan ajang heboh itu sekaligus menghibur pengunjung. Targetnya lebih dari 4 juta orang datang dan transaksi lebih dari 4 triliun rupiah pada ajang
PRJ 2012 ini.
Jakarta memang menggoda. Jakarta Great Sale dan Pekan Raya Jakarta, dua-duanya menawarkan diskon guna menarik pengunjung. Tak ayal aneka barang yang didiskon di sejumlah mall pun diserbu para shopaholic. Layaknya gula yang dikerubuti semut. Di Kemayoran tak kalah seru, meski macet dan harus membayar tiket masuk warga tetap datang. Sekedar melihat pujaan hati mereka beraksi di atas panggung PRJ atau berburu barang-barang idaman dengan tawaran harga dan beragam promosi yang menggiurkan. Atau dua-duanya. Dua event ini rutin diselenggarakan dalam rangka memeriahkan Ulang Tahun Jakarta. Padahal Jakarta tidak lagi muda. 22 Juni 2012, usianya bercokol di angka 485 tahun. Dan layaknya ulang tahun, setiap orang punya wish. Yang mengucapkan selamat ulang tahun pun punya harapan. Semoga ini dan semoga itu. Begitu juga warga yang umumnya bekerja di Jakarta tapi tidak tinggal di sini, commuters. Dan khususnya warga yang benar-benar tinggal dan beraktifitas di Jakarta. Mereka punya segudang, agak lebay memang, harapan untuk Jakarta, yang menjadi tumpuan hidup mereka, diusianya yang semakin tua.
Jakarta memang punya sejumlah persoalan yang belum selesai hingga saat ini. Banjir masih kerap bertandang kala musim penghujan tiba. Tak pelak sejumlah daerah jadi langganan terendam air bah kiriman tersebut. Banjir tidak pandang bulu. Jalan protokol Thamrin pun sempat tergenang air yang meluap karena drainase yang terhambat sehingga mengganggu kelancaran arus lalu lintas. Tidak peduli siapa yang mau lewat, rombongan Presiden sekalipun. Banjir bukan satu-satunya masalah yang diharapkan segera tuntas. Masih ada macet. Ini yang terjadi setiap saat. Tak pilih-pilih musim. Panas maupun hujan. Pun tak kenal waktu. Pagi, siang, petang, malam. Macet tetap mewarnai keseharian warga di Jakarta.
 |
| Pembangunan fly over di ruas jalan Antasari, Jakarta Selatan |
Macam-macam solusi dilakukan untuk mengurangi tingkat kemacetan yang menjadi keluhan nomor satu bagi warga yang setiap hari bersentuhan dengan Jakarta. Pemerintah bukan tidak bertindak.
Under pass dan
Fly Over dibangun. Jalan raya di Jakarta masih macet.
Pemprov DKI Jakarta tak habis akal. Sistem transportasi BRT atau
Bus Rapid Transit Transmilenio di Bogota, Kolombia, pun dicontek sama persis oleh Pemprov DKI untuk menurunkan kemacetan. Di sini namanya Transjakarta. Tapi warga sudah salah kaprah dengan menyebutnya "busway". Padahal itu adalah jalur khusus bus Transjakarta. Bus Transjakarta tidak sepi peminat. Setiap jam pergi dan pulang kantor
penumpangnya berjubel. Pernah suatu kali saya naik bus Transjakarta,
petugas amdal yang biasa berjaga di pintu
ngambek karena penumpang susah
diatur. Si petugas sudah meminta agar dua penumpang saja yang
naik karena bus sudah sesak. Tapi yang naik lebih dari dua, pintu tidak
bisa ditutup. Si petugas keluar dan berkata, "ya
udah kalau gitu saya
aja
yang turun".
Maunya cepat sampai tapi penumpang susah diatur. Itu hanya salah satu pengalaman saya naik bus Transjakarta koridor Blok M - Kota di suatu sore pada akhir pekan beberapa hari lalu.
Sedianya bus Transjakarta diharapkan dapat mengalihkan warga yang berkendara roda empat untuk menggunakan sarana transportasi ini menuju tempat aktifitas sehingga bisa mengurangi volume kendaraan yang ada di jalan raya ibukota pada waktu-waktu tertentu. Namun, sudah lebih dari sepuluh tahun beroperasi di beberapa koridor bus Transjakarta belum mampu menyelesaikan soal macet. Macet belum selesai. Solusi lain pun dihadirkan. Jalur monorail dibangun di beberapa titik strategis. Hasilnya nihil. Jangankan berperan menurunkan tingkat kemacetan. Pembangunannya saja tidak selesai. Terhalang dana. Sia-sia jadinya.
 |
| Proses pembangunan fly over di ruas jalan Antasari |
Soal macet benar-benar masih menjadi pekerjaan rumah Pemprov DKI Jakarta. Entah bagaimana cara yang paling ampuh, warga hanya ingin bebas dari macet.
Pengen nyaman berada di jalan raya Jakarta. Rasanya, itu harapan yang paling sederhana.
Kurang dari sebulan lagi, 11 Juli 2012, warga ber-KTP Jakarta yang sudah punya hak pilih akan memilih satu dari enam kandidat yang mereka percaya untuk menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur periode lima tahun mendatang. Salah satu kandidat berjanji akan menambah
1000 unit bus Transjakarta.
Kalau, sekali lagi kalau, dia dan wakilnya terpilih. Nah, mampukah kiranya kandidat terpilih nanti menyelesaikan soal macet yang sepertinya sudah mengakar ini?
Tindakan nyata mereka sangat dinantikan oleh warga.
Saya memang bukan warga yang ber-KTP Jakarta. Tapi sehari-hari, aktifitas saya bersentuhan langsung dengan Jakarta yang mau tidak mau harus rela menikmati macet di jalan rayanya. Karena itu saya pun berharap sama dengan warga Jakarta kebanyakan. Pengen Jakarta bebas macet diusianya yang makin tua. Seperti yang dituliskan beberapa orang teman saya di status bbm-nya saat Jakarta nambah usia: 485, Bebas Macet...
Ngomong-ngomong, Selamat Ulang Tahun ke-485 Jakarta. Semoga tidak menjadi Jakarta yang makin tua, makin macet...!!!